Jakarta

Pemerintah Kota Makassar membuat aturan baru pengetatan PPKM Mikro yang salah satu isinya meniadakan kegiatan di rumah ibadah, namun diskotek tetap boleh beroperasi hingga 17.00 WITA. Aturan itupun direvisi demi menciptakan keadilan.

Aturan itu tertuang dalam surat edaran (SE) perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang dikeluarkan oleh Wali Kota Makassar Ramdhan Danny Pomanto. Dalam SE itu tertulis kegiatan di rumah ibadah mulai dari masjid hingga gereja ditiadakan, sedangkan tempat karaoke dan diskotek boleh buka hingga pukul 17.00 Wita.

Larangan kegiatan di rumah ibadah tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor: 443.01/334/S.Edar/Kesbangpol/VII/2021 tentang Perpanjangan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Pada Masa COVID-19 di Kota Makassar. Aturan itu diteken Danny di Makassar dan berlaku dari 6 hingga 20 Juli 2021.

Berikut bunyi larangan kegiatan rumah ibadah yang tertuang dalam poin ke-7 surat edaran tersebut;

Pelaksanaan Kegiatan Ibadah (pada tempat ibadah di Mesjid, Musholla, Gereja, Pura dan Vihara serta tempat ibadah lainnya ditiadakan untuk sementara waktu, sampai dengan wilayah dimaksud dinyatakan aman berdasarkan penetapan Pemerintah Kota Makassar dan lebih mengoptimalkan ibadah di rumah.

Sementara itu, dalam poin ke-10 Surat Edaran tersebut mengatur tempat hiburan malam hingga diskotek yang boleh buka hingga pukul 17.00 Wita. Berikut bunyi aturannya;

Pelaksanaan kegiatan usaha Karaoke, Rumah Bernyanyi Keluarga, Club Malam, Diskotek, Live Music, Pijat/Refleksi, dan semacamnya termasuk sarana penunjang Tempat Hiburan Malam yang ada di Hotel, diizinkan sampai pukul 17.00 wita dengan pembatasan kapasitas pengunjung sebesar 25% (dua puluh lima persen) dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Alasan Diskotek Dibuka

Kepala Kesbangpol Makassar, Ahmad Namsum menyebut kebijakan Pemkot Makassar yang meniadakan kegiatan di rumah ibadah dalam SE tersebut sesuai dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2021 tentang PPKM mikro.

“Memang di situ ditegaskan bahwa Makassar ini tidak ada dalam daftar itu (PPKM darurat) tapi Makassar ada dalam zona oranye sehingga itu ditegaskan sekali lagi bahwa di Inmendagri nomor 17 tahun 2021 bahwa untuk sementara waktu (kegiatan tempat ibadah ditiadakan), bukan ditutup, tapi beribadah di rumah,” kata Ahmad ditemui di kantornya, Rabu (7/7).

Terkait tempat karaoke hingga diskotek yang boleh buka hingga pukul 17.00 Wita, Ahmad menegaskan hal itu merupakan upaya menggerakkan roda perekonomian di Makassar.

“Kalau (tempat karaoke-diskotek) buka sampai pukul 17.00 Wita itu bagian daripada Instruksi Mendagri bahwa batasannya sampai pukul 17.00 Wita,” tegasnya.

“Itu semua adalah bagaimana untuk tetap harapan pemerintah menggerakkan roda ekonomi. Tetapi ditegaskan bahwa ditegaskan bahwa harus tutup pukul 17.00 Wita,” lanjutnya.

Aturan Direvisi

Setelah aturan itu dikritik masyarakat, Wali Kota Makassar Ramdhan ‘Danny’ Pomanto merevisi PPKM yang mengatur soal kegiatan di rumah ibadah ditiadakan sedangkan tempat karaoke hingga diskotek boleh buka hingga pukul 17.00 Wita. Aturan itu dikaji ulang.

“PPKM di Makassar sudah enam kali berjalan. Dan kali ini, dari Kemenkes, kita (Kota Makassar) dimasukkan dalam zona oranye. Makanya dalam pasal Instruksi Kemendagri untuk sementara waktu tempat ibadah tidak dibolehkan. Tapi ini bersifat imbauan. Memicu rasa ketidakadilan, jadi malam ini (Rabu 7/7) kita revisi,” kata Danny dalam keterangan tertulis dari Humas Pemkot Makassar yang diterima detikcom, Kamis (8/7/2021).

Danny mengatakan sudah melakukan pertemuan di kediamannya di Jalan Amirullah, Makassar, pada Rabu (7/7) malam, Danny mengadakan pertemuan dengan Kapolres Makassar Kombes Witnu Urip Laksana untuk melakukan kajian ulang PPKM Makassar Nomor: 443.01/334/S.Edar/Kesbangpol/VII/2021 yang berlaku pada 6-20 Juli. Kajian difokuskan pada poin ke-7 dan ke-10, yang mengatur soal kegiatan di rumah ibadah ditiadakan sedangkan tempat karaoke hingga diskotek buka hingga 17.00 Wita.

“Hasilnya, selama PPKM tidak ada lagi tempat hiburan malam (THM) yang dibolehkan beroperasi sementara waktu,” tegas Danny dalam keterangan tertulisnya.

Danny melanjutkan pihaknya akan menentukan wilayah setingkat RT/RW di Makassar yang masuk dalam zona hijau, kuning, oranye, hingga merah penyebaran COVID-19. Penentuan zona tingkat RT/RW itu dilakukan berdasarkan laporan tim Detektor COVID-19 Makassar dan kajian bersama epidemiolog.

“Tim detektor ini akan menilai RT mana yang zona hijau, oranye, dan merah. Kalau merah pasti kita tutup dan akan di-tracing serta treatment hingga pulih dan mendapat predikat zona hijau,” kata Danny.

Danny juga menegaskan pihaknya tidak melarang azan di masjid-masjid selama kegiatan di rumah ibadah ditiadakan mulai 6 hingga 20 Juli. Tapi dia meminta warga tetap melaksanakan salat di rumah masing-masing.

“Diimbau untuk lebih baik salat di rumah sambil menunggu sementara waktu virus ini dapat ditekan penyebarannya,” tuturnya.

Alasan Danny merevisi aturan PPKM terkait penutupan tempat ibadah dan diskotek karena ingin memberikan rasa adil. Danny juga memastikan revisi surat edaran PPKM yang menutup diskotek akan segera diteken.

“Pertimbangannya (menutup diskotek) tentunya hasil diskusi dengan berbagai pihak, terutama rasa keadilan masyarakat tentang (rasa) ketidakadilan terhadap hiburan malam jika dibandingkan dengan perlakuan terhadap pembatasan kegiatan peribadatan (di rumah ibadah),” tegas Danny.

(zap/aik)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments