Beranda » Rahim Copot usai Melahirkan Jadi Buah Bibir, Apa Penyebabnya?

Rahim Copot usai Melahirkan Jadi Buah Bibir, Apa Penyebabnya?

by Geralda talitha
rahim copot usai melahirkan

AmanImanImun.com – Kondisi rahim copot usai melahirkan belakangan tengah ramai jadi perbincangan di media sosial. Kondisi ini cukup menggemparkan usai diceritakan langsung oleh dr. Gia, yang merupakan seorang dokter kandungan saat ia diundang hadir sebagai bintang tamu di podcast Raditya Dika beberapa waktu lalu.

Kejadian ini dialami dr. Gia ketika ia tengah bekerja di RSUD Garut. Dalam ceritanya, ia mengatakan kondisi ini terjadi setelah diketahui sang pasien sempat melahirkan di dukun beranak.

Lalu kemudian sang dukun beranak, menurut pemaparan dr. Gia telah menarik plasenta yang belum kepas sempurna hingga menyebabkan rahim pasien ikut tertarik keluar.

Rahim Turun Setelah Melahirkan: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Kondisi rahim turun atau dikenal secara medis sebagai prolaps uteri merupakan masalah yang dapat terjadi pada sebagian wanita setelah melahirkan. Meskipun sering dianggap hal sepele, kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena dapat memengaruhi kualitas hidup, kenyamanan, dan kesehatan reproduksi wanita. Rahim yang “copot” bukan berarti terlepas sepenuhnya, melainkan mengalami penurunan posisi dari tempat semestinya akibat melemahnya jaringan penyangga di area panggul.

Mengapa Rahim Bisa Turun Setelah Melahirkan

Selama proses kehamilan dan persalinan, otot serta jaringan ikat di dasar panggul bekerja keras menopang berat janin dan rahim yang membesar. Setelah melahirkan, terutama melalui proses persalinan normal, jaringan tersebut dapat mengalami peregangan berlebih bahkan kerusakan mikro. Jika tidak pulih dengan baik, kekuatan otot panggul melemah sehingga rahim dapat turun ke arah vagina.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko rahim turun setelah melahirkan antara lain:

  • Persalinan berulang kali. Setiap proses melahirkan memperbesar kemungkinan melemahnya otot dasar panggul.
  • Bayi besar atau persalinan lama. Tekanan berlebih saat mengejan dapat memperparah kondisi jaringan pendukung rahim.
  • Kekurangan hormon estrogen. Setelah melahirkan, kadar estrogen menurun sehingga jaringan di area panggul menjadi kurang elastis.
  • Kebiasaan mengangkat beban berat. Aktivitas ini menambah tekanan pada perut bagian bawah yang dapat memperburuk prolaps rahim.
  • Kelebihan berat badan dan batuk kronis. Keduanya memberikan tekanan konstan pada dinding panggul, mempercepat penurunan rahim.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Wanita yang mengalami rahim turun biasanya merasakan sensasi seperti ada benda menekan dari dalam vagina. Selain itu, dapat muncul keluhan seperti:

  • Nyeri punggung bawah atau panggul terasa berat
  • Kesulitan buang air kecil atau besar
  • Rasa tidak nyaman saat berhubungan intim
  • Dalam kasus parah, leher rahim dapat terlihat keluar dari lubang vagina

Jika gejala ini muncul, pemeriksaan ke dokter kandungan sangat disarankan agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Cara Mengatasi dan Mencegah Rahim Turun

Penanganan rahim turun bergantung pada tingkat keparahan. Pada kasus ringan, dokter biasanya menganjurkan latihan penguatan otot dasar panggul (senam Kegel) untuk membantu menopang kembali posisi rahim. Penggunaan alat penopang vagina (pessary) juga dapat membantu mempertahankan posisi rahim sementara waktu.

Untuk kasus lebih berat, tindakan operasi mungkin diperlukan guna memperbaiki jaringan pendukung atau bahkan mengangkat rahim (histerektomi) jika kerusakannya parah. Pencegahan dapat dilakukan dengan rutin berolahraga ringan, menjaga berat badan ideal, menghindari mengejan berlebihan, serta melakukan senam Kegel sejak masa nifas.

related posts

Leave a Comment