Beranda » Super Flu H3N2 Subclade K Masuk Indonesia, Kemenkes Minta Masyarakat Tetap Waspada

Super Flu H3N2 Subclade K Masuk Indonesia, Kemenkes Minta Masyarakat Tetap Waspada

by Geralda talitha
super flu

AmanImanImun.com – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengonfirmasi bahwa varian Influenza A (H3N2) subclade K, yang belakangan dikenal dengan sebutan “super flu”, telah terdeteksi masuk ke Indonesia. Virus tersebut dilaporkan mulai teridentifikasi di Tanah Air sejak 25 Desember 2025 dan saat ini menjadi perhatian otoritas kesehatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menyampaikan bahwa hingga kini belum ditemukan bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa subclade K menyebabkan tingkat keparahan penyakit yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza sebelumnya. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat karakter virus yang mudah menyebar.

“Merujuk pada publikasi terbaru pada Desember 2025, influenza A (H3N2) merupakan salah satu virus emerging yang pernah menyebabkan pandemi di Amerika Serikat pada tahun 1968 dan kembali menjadi penyebab peningkatan flu pada 2024 hingga 2025, khususnya pada kelompok anak-anak,” jelas dr. Prima, seperti dikutip Jumat (02/01/2025).

Varian subclade K sendiri merupakan hasil mutasi terbaru dari virus Influenza A (H3N2) yang telah lama beredar secara global. Peneliti senior Johns Hopkins Center for Health Security, Amesh A. Adalja, M.D., menjelaskan bahwa subclade ini pertama kali terdeteksi oleh para ilmuwan pada Juni 2025 dan kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai wilayah.

Menurut para ahli, super flu umumnya memerlukan waktu inkubasi sekitar tiga hingga empat hari sebelum gejala mulai muncul. Gejala yang dialami penderita pada dasarnya serupa dengan flu musiman, meliputi batuk, sakit tenggorokan, hidung berair atau tersumbat, nyeri otot atau badan, sakit kepala, serta rasa lelah yang cukup berat. Pada sebagian kasus, keluhan tersebut dapat mengganggu aktivitas harian.

Kelompok tertentu diketahui memiliki risiko lebih tinggi jika terinfeksi virus ini. Orang lanjut usia, individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, serta mereka yang memiliki tingkat kebugaran rendah disebut lebih rentan mengalami komplikasi. Selain itu, kelompok ini juga memiliki risiko lebih besar terhadap gangguan pembuluh darah, termasuk peningkatan potensi serangan jantung.

Sejumlah pakar kesehatan menekankan pentingnya vaksin influenza sebagai langkah pencegahan, meskipun vaksin tersebut tidak sepenuhnya mampu mencegah penularan. Namun, vaksin tetap berperan signifikan dalam menurunkan risiko gejala berat dan komplikasi serius.

“Vaksin ini dapat mengurangi kemungkinan Anda dirawat di rumah sakit dan mengalami dampak buruk,” ujar profesor sekaligus kepala penyakit menular di Universitas Buffalo, New York, Thomas Russo, M.D.

Dr. Russo juga menambahkan bahwa penggunaan masker, terutama di tempat ramai dan ruang tertutup, masih menjadi langkah efektif untuk menekan risiko penularan super flu. Selain itu, masyarakat diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan jika mengalami gejala flu agar dapat mengetahui jenis infeksi yang diderita.

Hal ini penting mengingat gejala influenza dapat menyerupai COVID-19, sementara penanganan dan pengobatannya berbeda. Dengan deteksi dini dan langkah pencegahan yang tepat, risiko dampak kesehatan akibat penyebaran super flu diharapkan dapat diminimalkan.

related posts

Leave a Comment