Beranda » Waspada Child Grooming, Kejahatan Senyap yang Mengintai Anak dan Remaja

Waspada Child Grooming, Kejahatan Senyap yang Mengintai Anak dan Remaja

by Geralda talitha
child grooming

AmanImanImun.com – Kalau dengar kata child grooming, banyak orang langsung mikirnya jauh, rumit, dan “ah, itu kan kasus ekstrem”. Padahal kenyataannya, child grooming sering terjadi sangat dekat dengan kita—di chat, di kolom komentar, bahkan di lingkungan sekitar. Modusnya halus, pelan-pelan, dan sering menyamar sebagai perhatian atau candaan.

Child grooming adalah proses ketika orang dewasa membangun kedekatan emosional dengan anak atau remaja untuk tujuan eksploitasi seksual. Yang bikin ngeri, proses ini jarang terasa seperti kejahatan di awal. Justru sebaliknya: terlihat ramah, suportif, dan bikin korbannya merasa “dipilih”.

Biasanya dimulai dari hal sederhana. Follow di media sosial. Like foto. DM basa-basi. “Kamu pinter ya”, “Kok dewasa banget sih mikirnya”, atau “Kamu beda dari anak-anak lain”. Pujian ini kelihatannya sepele, tapi buat anak atau remaja, rasanya validasi level dewa. Dari sini, pelaku pelan-pelan membangun kepercayaan.

Setelah itu, pelaku mulai masuk ke fase yang lebih dalam. Chat makin intens, minta rahasia disimpan berdua, sampai menjelekkan orang dewasa lain di sekitar korban. Orang tua dibilang nggak ngerti, guru dianggap kolot. Tujuannya satu: bikin si anak merasa cuma pelaku yang benar-benar “ngerti dia”.

Yang sering bikin grooming sulit terdeteksi adalah karena nggak selalu ada paksaan. Korban bisa merasa nyaman, merasa diperhatikan, bahkan merasa punya hubungan spesial. Makanya, narasi “kenapa nggak nolak dari awal?” itu nggak relevan. Grooming memang dirancang supaya korbannya nggak sadar sedang dimanipulasi.

Di era digital, child grooming makin gampang. Anonimitas internet bikin pelaku bisa menyamar jadi siapa saja. Umur bisa dipalsukan, niat disembunyikan. Platform game online, media sosial, dan aplikasi chat jadi lahan subur karena minim pengawasan dan interaksi terasa personal.

Buat kita yang sekarang ada di usia 20–35 tahun, isu ini penting banget. Banyak dari kita adalah kakak, orang tua muda, guru, atau sekadar teman curhat adik-adik. Tanda-tanda grooming perlu dikenali sejak awal: anak jadi lebih tertutup, defensif soal gadget, tiba-tiba punya “teman rahasia”, atau merasa takut kalau chat-nya ketahuan.

Ngomongin child grooming bukan buat nakut-nakutin, tapi buat bikin kita lebih aware. Anak dan remaja butuh ruang aman untuk cerita tanpa dihakimi. Semakin mereka merasa didengar, semakin kecil celah pelaku buat masuk.

Child grooming bukan soal “kurang hati-hati”, tapi soal manipulasi yang sistematis. Dan satu-satunya cara melawannya adalah dengan literasi, empati, dan keberanian untuk peduli. Karena kejahatan paling berbahaya sering datang dengan wajah paling ramah.

related posts

Leave a Comment